Tukang Sindang

Setiap pagi aku berangkat kerja,aku selalu melihat orang yang membawa cangkul dan semacam pengki dari bambu.Mereka biasanya tidak sendiri,ada tiga orang atau lebih.Disepanjang jalan aku melihat mereka berjalan dengan cangkul disandang di bahu.Sebagian bersepatu,bersandal jepit bahkan telanjang kaki.Mereka disebut sebagai “Tukang Sindang”,kata lain dari tukang gali tanah. Mereka berjalan menawarkan jasa menggali tanah.
Aku tidak tahu bayaran mereka sehari berapa.Tetapi biasanya dengan sistem borongan,perhari rata-rata 30rb-45rb.
Entahlah,belakangan ini aku sering terharu melihat tukang sindang.Aku membayangkan mereka berjalan seharian kadang tanpa penghasilan.Belum tentu ada orang yang membutuhkan jasa mereka sehari itu.
Pernah aku menggunakan jasa tukang sindang,borongan sehari. Tetapi baru jam lima sore tukang sindang tersebut pamit pulang,padahal kesepakatannya selesai jam setengah 6 lewat. Ternyata dia buru-buru mau pulang karena rumahnya jauh,di Cikampek.
Setiap pagi dia naik kereta,turun di Stasiun Tanah Abang.Kemudian dia berjalan menjajakan dirinya untuk menggali tanah. Ah,jarak Tanah Abang ke rumahku di Ciledug bukanlah jarak yang dekat.AKu saja beberapa kali disuruh Oomku ke Tanah Abang naik kopaja saja rasanya males banget.Tetapi tukang sindang ini berjalan demi tuntutan perut.Ah,mau menangis rasanya aku membayangkan itu.
Setiap pagi aku melewati perumahan Permata Hijau.Di pertigaan taman perumahan mewah Permata Hijau,sebelum Hero.setiap pagi puluhan tuakng sindang duduk di taman tersebut. Mereka menunggu orang yang membutuhkan jasa mereka.Menunggu “order”,istilah mereka. Kadang ada truk atau mobil pick up yang mengangkut mereka untuk memanfaatkan jasa mereka untuk proyek perumahan,penggalian jalan untuk jaringan telpon,dsb.Tetapi sering mereka hanya merokok saja di taman atau sekedar ngobrol menunggu order yang tak kunjung datang.Berarti sehari itu mereka tidak mendapatkan uang.
Aku pernah membaca di harian Kompas,tukang Sindang yang “berkantor” di Permata Hijau itu berasal dari Brebes.Disini mereka mengontrak sebuah bedeng untuk ditinggali bersama.
Ah,kembali aku harus menahan tangis melihat perjuangan mereka bertahan hidup.Tetapi aku melihat mereka masih bisa tertawa di taman itu.Entah mereka menertawakan apa.Mungkin menertawakan nasib mereka,atau malah menertawakanku yang sedih melihat perjuangan mereka mencari makan.
Kembali aku mendapat pelajaran hidup dari mereka,orang-orang yang terpinggirkan secara sosial.
Dalam hati aku begitu bersyukur,betapa aku masih bisa makan enak di warung atau restoran tapa mengutang,masih bisa tidur nyenyak di kasur empuk,masih bisa naik kendaraan,masih bisa tertawa dengan perut kenyang tanpa memikir besok harus makan apa.
Tak terasa ada sedikit air di ujung mataku,sedikit,ya hanya sedikit.
Mampang,191208@MBM
Dua Garis Merah Sejajar
Dua garis merah berjajar itu sangat berarti bagiku
Dua garis yang sejajar apabila salah satu didirikan menjadi vertikal,kemudian pertengahan garis vertikal diletakkan diatas garis horizontal,maka akan membentuk salib atau tanda positif (+).
Kata positif adalah kata untuk menggambarkan pergerakan sesuatu hal yang menjadi bagus.Bisa juga untuk penggambaran sesuatu yang pasti.
Sedangkan satu garis horizontal saja yang membentuk tanda minus (-) adalah kebalikan dari penjelasan diĀ atas.
Sesuatu yang positif tentu akan mendatangkan kegembiraan.
Begitu pula ketika bidadariku dengan senyum mengembang menunjukkan dua garis merah berjajar yang tertera pada suatu benda kecil tipis,pipih,agak panjang yang baru dibelinya dari apotik.
Dua garis merah itu muncul setelah dicelupkan ke air seninya.Betapa hebat tekhnologi.
Dua garis merah berjajar itulah yang telah memicu luapan kegembiraanku.Dua garis merah berjajar yang bersejarah.
Bebanku,ketakutanku,kecemasanku seketika menguap tak berbekas di depan dua garis merah berjajar itu.
Kupeluk bidadariku,tak terasa ada butiran hangat yang keluar dari sudut mataku.
Haru,bangga,bahagia membuncah…semua karena dua garis merah berjajar.
Mampang,
101208@MBM