Susahnya Mengucap Maaf
Seminggu yang lalu aku belanja ke toko serba ada kepunyaan Perancis,Carrefour. Mungkin karena tanggal muda,banyak sekali yang belanja di toko serba ada ini.Selagi asyik memilih susu,tiba-tiba pantatku disenggol troly alias keranjang belanja dorongan yang berisi anak kecil.
Pendorong troly yang menyenggol pantatku itu hanya tersenyum. Aku memperingatkan,”Pak,hati-hati ya dorongnya.” Tidak ada sahutan,hanya senyuman yang keluar dari bibir bapak itu.Istrinya yang berada disampingnya melengos seolah tidak terjadi apa-apa. Aku diam saja,mencoba berpikir positif bahwa mungkin karena suasana ramai jadi dia tidak sengaja menyenggolku.
Aku meneruskan kegiatanku berbelanja. Ketika hendak mengambil sabun pencuci piring,di depanku seorang perempuan muda bersama ibunya secara santai memarkir trolynya di tengah lorong,benar-benar di tengah.Kemudian mereka berjalan memilih-milih sabun. Dengan sabar aku memindahkan troly itu supaya tidak menghalangi laju trolyku dan pengunjung yang lain.
Tetapi apa reaksi ibu itu? Meminta maaf? berterima kasih karena trolynya dipindahkan? Tidak kawan!!Justru ibu itu dengan muka cemberut bersungut sungut,”Kok,dipindahin sih trloynya?” Aku hanya nyengir sambil berkata,”Kalau naruh troly jangan ditengah jalan,Bu.” Ibu itu cemberut, anak perempuannya juga berlaku sama.Aku dan istriku hanya tersenyum melihat kegagalan ibu itu mendidik anaknya untuk berlaku menghormati orang lain.
Ternyata “ujian kesabaran” untukku belum selesai.Selesai belanja,ketika hendak turun eskalator pantatku ditabrak trloy lagi.Kali ini ibu muda dengan anak kecil di dalam trolynya. Aku menoleh ke belakang hendak marah,tetapi karena anak kecil di dalam troly itu ketakutan aku mengurungkan niatku untuk marah.Dengan senyum tersungging di bibirku,aku berkata,”Bu,hati-hati ya,pelan-pelan aja dorong trolynya.” Sekali lagi aku menerima respon yang mengecewakan.Ibu muda itu malah melengos,memalingkan muka ke tempat lain.Aku hanya tertawa dan berkata setengah berteriak,”Ya ampun malah cuek,dibilangin baik-baik juga.” Ibu itu malah mempercepat jalannya.
Ah,aku jadi berpikir apa susahnya mengucapkan kata “maaf” ketika kita melakukan kesalahan.
Dari ketiga kejadian di atas tadi aku langsung berpikir jahat bahwa mereka telah mengajarkan hal yang salah kepada anaknya.Jelas-jelas mereka (yang membawa anaknya) menabrakku,tetapi meminta maaf saja tidak.Mereka melakukan kesalahan tetapi tidak mau minta maaf.
Apakah begitu susah mengucap maaf.Jika kita melakukan kesalahan apakah bukan sebaiknya kita minta maaf.Bukankah dari ketika kita mulai mengenal sekolah,kita selalu diajarkan pendidikan moral.Hanya untuk menghormati orang lain saja susahnya bukan main.Apakah ini salah pendidikan,atau memang budaya kita seperti itu atau memang cara berpikir kita yang terlalu feodal,inginnya dihormati tetapi tidak mau menghormati.
Jika aku terlalu kasar menyebut orang-orang seperti mereka dengan sebutan “bodoh”,ya maafkan aku..Mengucap kata maaf saja kok susah…
Mampang,
060209@MBM
Berbagi Waktu Menggunakan Mesin ATM
Beberapa minggu lalu ada perkelahian antara seorang preman dan aparat berpakain tentara di pusat perbelanjaan di daerah Ciledug. Perkelahian tersebut dipicu oleh aparat yang dirasa teralu lama menggunakan mesin ATM, sementara pengguna lain yang antri lumayan panjang.
Perkelahian bermula ketika sang preman menggedor pintu ATM karena merasa pengguna ATM tersebut terlalu lama di dalam. Pria yang didalam yang ternyata adalah aparat merasa tidak terima,dan tanpa ba-bi-bu keluar menghaburkan kepalan tangannya ke arah sang preman tersebut. Merasa tindakannya benar preman tersebut melawan.Terjadi baku pukul tanpa ada orang yang berani memisahkan.Kemudian perkelahian itu lerai dengan sendirinya.Sang Preman mengumpat,”Jangan mentang- mentang aparat trus seenaknya,yang ngantri banyak nih.”
Aku yang mendengar cerita tersebut langsung tercenung dan berpikir,aku juga sering kesal dengan orang yang menggunakan mesin ATM terlalu lama sedangkan di belakangnya orang mengantri panjang. Aku sendiri mencoba untuk tidak berlama-lama di depan mesin ATM jika melihat pengantri di belakang banyak.
Aku pernah mengantri di ATM lama sekali karena di depanku seorang ibu melakukan banyak transaksi.Transfer,melakukan pembayaran.menarik tunai,dsb.Ibu itu keluar,dan aku menggerutu karena lama mengantri.Ibu itu bukannya minta maaf tetapi malah melotot seolah olah apa yang dilakukannya benar dan tidak mengganggu orang lain.
Memang benar sekarang ATM adalah mesin ajaib yang memudahkan kegiatan kita dalam melakukan transaksi apapun. Misalnya kita tidak perlu ke PLN untuk membayar listrik, tidak perlu ke Telkom untuk membayar tahigan telepon,tidak perlu ke kantor Pos untuk mengirim wesel.Tinggal berdiri di depan mesin ATM,pencet sana sini,dan selesailah tugas kita membayar tagihan ini itu.
Tetapi yang tidak kita sadari adalah kita sering berlama-lama menggunakan mesin ajaib tersebut tanpa mempedulikan orang di belakang kita yang antri. Aku sendiri kalau hendak melakukan banyak transakasi memilih melakukan dua atau tida transakasi,kemudian keluar dan antri lagi paling belakang untuk melakukan transaksi berikutnya.Kasihan orang yang sudah mengantri lama,siapa tahu orang dibelakangku sedang buru-buru untuk keperluan yang lebih mendesak.
Kejadian perkelahian preman dan aparat tadi menyadarkanku bahwa kita ini memang terlhir untuk menjadi egois,ingin menang sendiri,tidak perduli terhadap orang yang tidak kita kenal.Apalagi jika kita merasa mempunyai jabatan dan merasa lebih dari orang lain.Seperti tentara tadi yang mentang-mentang memakai seragam lalu bertindak seenaknya tanpa peduli orang lain.Seharusnya kita menyisihkan sedikit hati untuk peduli sesama,hati untuk toleran,hati untuk ewuh pekewuh.Kalau kita melaksanakan hal tersebut ketika menggunakan ATM tentu tidak akan terjadi perkelahian memalukan seperti tadi.Mesin ATM adalah fasilitas umum.Jika kita bisa saling berbagi,walaupun sekedar berbagi waktu di mesin ATM tentunya semangat berbagi tersebut akan bisa kita praktekkan di banyak hal dalam kehidupan kita.
Mampang,160109@MBM
Tukang Sindang

Setiap pagi aku berangkat kerja,aku selalu melihat orang yang membawa cangkul dan semacam pengki dari bambu.Mereka biasanya tidak sendiri,ada tiga orang atau lebih.Disepanjang jalan aku melihat mereka berjalan dengan cangkul disandang di bahu.Sebagian bersepatu,bersandal jepit bahkan telanjang kaki.Mereka disebut sebagai “Tukang Sindang”,kata lain dari tukang gali tanah. Mereka berjalan menawarkan jasa menggali tanah.
Aku tidak tahu bayaran mereka sehari berapa.Tetapi biasanya dengan sistem borongan,perhari rata-rata 30rb-45rb.
Entahlah,belakangan ini aku sering terharu melihat tukang sindang.Aku membayangkan mereka berjalan seharian kadang tanpa penghasilan.Belum tentu ada orang yang membutuhkan jasa mereka sehari itu.
Pernah aku menggunakan jasa tukang sindang,borongan sehari. Tetapi baru jam lima sore tukang sindang tersebut pamit pulang,padahal kesepakatannya selesai jam setengah 6 lewat. Ternyata dia buru-buru mau pulang karena rumahnya jauh,di Cikampek.
Setiap pagi dia naik kereta,turun di Stasiun Tanah Abang.Kemudian dia berjalan menjajakan dirinya untuk menggali tanah. Ah,jarak Tanah Abang ke rumahku di Ciledug bukanlah jarak yang dekat.AKu saja beberapa kali disuruh Oomku ke Tanah Abang naik kopaja saja rasanya males banget.Tetapi tukang sindang ini berjalan demi tuntutan perut.Ah,mau menangis rasanya aku membayangkan itu.
Setiap pagi aku melewati perumahan Permata Hijau.Di pertigaan taman perumahan mewah Permata Hijau,sebelum Hero.setiap pagi puluhan tuakng sindang duduk di taman tersebut. Mereka menunggu orang yang membutuhkan jasa mereka.Menunggu “order”,istilah mereka. Kadang ada truk atau mobil pick up yang mengangkut mereka untuk memanfaatkan jasa mereka untuk proyek perumahan,penggalian jalan untuk jaringan telpon,dsb.Tetapi sering mereka hanya merokok saja di taman atau sekedar ngobrol menunggu order yang tak kunjung datang.Berarti sehari itu mereka tidak mendapatkan uang.
Aku pernah membaca di harian Kompas,tukang Sindang yang “berkantor” di Permata Hijau itu berasal dari Brebes.Disini mereka mengontrak sebuah bedeng untuk ditinggali bersama.
Ah,kembali aku harus menahan tangis melihat perjuangan mereka bertahan hidup.Tetapi aku melihat mereka masih bisa tertawa di taman itu.Entah mereka menertawakan apa.Mungkin menertawakan nasib mereka,atau malah menertawakanku yang sedih melihat perjuangan mereka mencari makan.
Kembali aku mendapat pelajaran hidup dari mereka,orang-orang yang terpinggirkan secara sosial.
Dalam hati aku begitu bersyukur,betapa aku masih bisa makan enak di warung atau restoran tapa mengutang,masih bisa tidur nyenyak di kasur empuk,masih bisa naik kendaraan,masih bisa tertawa dengan perut kenyang tanpa memikir besok harus makan apa.
Tak terasa ada sedikit air di ujung mataku,sedikit,ya hanya sedikit.
Mampang,191208@MBM
Setiap Orang Harus Punya Cerita
Inspirasi bisa datang dari mana saja. Bagi para seniman inspirasi kadang datang dari berbagai macam perenungan atau bahkan muncul begitu saja. Beberapa kali aku mendapat inspirasi tentang hidup setelah bertemu dengan berbagai macam orang yang berbeda karakternya. Seringkali justru inspirasi hidup itu datang dari orang yang selama ini “susah atau tidak beruntung” menurut pandangan kita. Susah atau tidak beruntung disini berarti bahwa menurut kita orang itu berpenghasilan rebih rendah dari kita,kebih tidak berpendidikan dari kita,pokoknya tidak lebih dalam hal apapun dari kita.Sekali lagi itu menurut ukuran dan pandangan kita.
Sekali lagi aku mendapat pengalaman yang mengesankan dan menginspirasi justru dari seorang tukang cukur.Ya,seorang tukang cukur. Bukan tukang potong rambut di salon yang wangi dan mahal,tetapi tukang cukur di pinggir jalan.Dengan hanya membayar Rp.8000,- aku mendapat dua pelayanan istimewa. Pertama tentu saja rambutku menjadi lebih rapi. Yang kedua adalah inspirasi tentang semangat hidup yang luar biasa.
Sambil mencukur rambutku,tukang cukur itu bercerita tentang kehidupannya selama ini. Dia harus mengeluarkan delapan juta rupiah selama setahun untuk membayar kontrak kiosnya. Untuk tidur dan istirahat dia mengontrak rumah seharga sekitar enam ratus ribu rupiah sebulan yang dia tempati bersama beberapa temannya yang berprofesi sebagai sopir taxi. Keluarganya,istrinya dan anaknya tinggal di kampung di daerah Tasikmalaya. Dia bertemu anak istrinya sebulan atau dua bulan sekali setelah mengumpulkan uang.
Pak tukan cukur ini bercerita selepas SMA di Tasik dia hijrah ke jakarta bermodal keahlian menggunting rambut.Setelah berpindah-pindah kios akhirnya dia menyewa kios di Palmerah,dekat pasar Palmerah.Di situ peruntungannya mulai membaik,kiosnya banyak pelanggan.Kemudian dia menikah. Tetapi baru dua usia pernikahan,dia mulai dirundung masalah.Kiosnya dibakar massa dalam peristiwa kerusuhan 1997 yang memang sangat mengerikan itu. Dia tidak tahu kenapa kiosnya ikut dibakar,padahal dia merasa sebagai warga pribumi,warga Indonesia.Ternyata pembakar kiosnya, yang ternyata kenal sama tukang cukur itu, berdalih bahwa kios yang disewa tukang cukur itu milik warga Tionghoa,jadi harus ikut dibakar,dimusnahkan.Tukang cukur itu hanya sempat menyelematkan satu gunting dan satu sisir,benda yang sangat berharga baginya.
Kemudian dengan uang pinjaman dia berpindah-pindah kios untuk mencari pelanggan baru. Pernah buka kios di Grogol tetapi tidak bertahan lama karena sering dipalak atau dimintai uang secara paksa oleh preman-preman di sekitarnya.
Usahanya yang tak kenal lelah akhirnya membuahkan hasil.Sekarang dia sudah mendapat langganan tetap yang lumayan banyak,salah satunya adalah kepalaku yang aku relakan untuk dipegang dan dibabat rambutnya. Aku bertanya dalam satu hari memotong rambut berapa orang? “Paling sedikit 20 kepala,mas.” jawabnya. Dalam hati aku menghitung 20 kepala dikali 8 ribu rupiah dikali 26 hari kerja (dengan asumsi dalam seminggu libur sehari). Wah,jumlah yang lumayan banyak.
Kata-katanya yang paling kuingat adalah,”Setiap orang harus punya cerita mas.”
“Kalau lahir langsung kaya,langsung pintar,langsung punya uang banyak,langsung bahagia,itu ngga seru mas.Ngga ada yang bisa diceritakan ke anak cucu hehehe.Dengan perjuangan saya selama ini bertahan hidup,membuat saya lebih mensyukuri hidup.” kata-kata yang begitu sederhana tetapi dalam maknanya.
Perjuangannya untuk bertahan hidup hanya bermodalkan kebisaannya menggunting rambut dan semangat hidupnya telah menyentak psikisku. Kadang aku sering merasa tidak puas,merasa tidak mampu,takut sebelum melakukan sesuatu,padahal aku mempunyai kemampuan untuk melakukannya. Setelah mendengar cerita pak tukang cukur tersebut aku menjadi lebih tegar menghadapi hidup…
Mampang, Nov,27,08 @ MBM
Obrolan Dengan Pengamen 213
“Selamat malam penumpang bus 213, ijinkan saya menghibur saudara sekalian dalam perjalanan anda.Sebelumnya mohon maaf apabila ada yang tidak berkenan dengan suara saya ini. “Ucapan itu mengalir dari mulut seorang pengamen di atas bus PPD 213 jurusan Grogol – Kampung Melayu yang meluncur melewati kampus Reformasi, Trisakti, Grogol.
Genjrengan senar gitar dan suara yang serak dari pengamen itu mencoba mengalahkan deru mesin bus yang terdengar kencang. Lagu dari Peter Pan didendangkan atau lebih tepatnya diteriakkan pengamen tersebut.
Setelah menyanyikan dua buah lagu, pengamen itu mengambil kantong plastik bekas bungkus permen dari saku belakang celana jeansnya yang kumal.
Aku masukkan uang lima ratus rupiah ke kantong itu sambil memandang mulutnya yang mengucapkan terima kasih dan menyunggingkan senyuman.
“Numpang duduk ya mas,” ucap pengamen itu sambil duduk di bangku sebelahku yang memang kosong.Kamipun mulai mengobrol.Singkatnya dia bercerita bahwa sebelum menjadi pengamen dia adalah pegawai di sbuah perusahaan swasta.Karena perusahaannya bangkrut dia terkena pemutusan hubungan kerja.
“Saya kemudian menjadi tukang ojek mas,”ungkap pengamen itu.Dia bercerita menjadi tukang ojek sekarang semakin susah.Saingannya banyak,ditambah sekarang untuk kredit motor syratnya sungguh gampang. Dalam sehari penghasilannya sebagai tukang ojek sekitar Rp.30.000.Sementara dia harus membayar angsuran kredit motor 400 ribu per bulan.
Akhirnya dengan berbekal gitar dia mencoba untuk mengamen.
“Lumayan mas, bisa bayar cicilan motor.” ujar pengamen itu sambil mengepulkan asap rokok.
“Memang sehari bisa dapat berapa mas?”tanyaku penasaran.
“Sekarang jam berapa mas?sampai sekarang saya sudah dapat 50 ribu lebih mas.” Aku lihat jam yang ada di kaca depan disamping sopir,jam 19.20 malam.
“Yah,nanti jam sembilan saya pulang mas,capek.”lanjutnya. “Biasanya sehari saya bawa pulang 70 ribu rupiah mas.Kalau lagi rame bisa dapet 100 ribu lebih.Lumayan banget mas, sudah nggak ngrepotin orang tua” tukasnya.
“Wah melebihi gaji saya dong mas,”sahut saya sambil tersenyum.”Halah,bisa saja mas ini.Saya turun duluan ya mas,sukses ya mas.”ucapnya,kemudian dia turun di perempatan Slipi.
Setelah pengamen itu turun aku tehanyut lamunan. Ternyata penghasilan pengamen itu termasuk besar. Aku teringat kata-kata terakhir pengamen tersebut,”Sukses ya mas.”
Sialan,ucapan itu sepertinya menyindirku dan orang-orang kantoran yang dari pagi sampai sore bekerja dengan pakaian rapi,di ruangan yang dingin oleh penyejuk ruangan, tetapi terkadang penghasilannya belum tentu melebihi pengamen itu.
Tetapi aku bersyukur masih bisa bekerja,mengutip kata-kata pengamen tadi,”Lumayan banget mas, sudah nggak ngrepotin orang tua.”
Mampang,
Tue,160908
Penampilan Kadang Menipu (Obrolan di Kereta)
Selama ini saya dan mungkin banyak orang sering mendeskripsikan sifat orang bahkan perkerjaannya hanya dilihat dari penampilan luarnya saja.
Misalnya cara berpakaian,pakaian yang dikenakannya,merek-merek yang menempel dibadannya seperti tas,sepatu,dll.
Hanya melihat sekilas penampilan orang kadang saya dan mungkin banyak orang langsung memvonis apakah orang itu kaya atau tidak,menyenangkan,menyebalkan,kampungan,sombong,dan lain sebagainya.
Kadang hanya melihat penampilan saja kita jadi malas untuk kenal,malas ngobrol,atau kita akan cari perhatian supaya bisa berkenalan dengan seseorang dengan penampilan terterntu.
Misalnya saya melihat cowok yang berpenampilan kemayu selalu mendeskripsikan bahwa orang itu suka sesama jenis,kerja di salon,desainer,tukang rias.
Kalau melihat orang yang penampilannya awut-awutan,memakai anting,bertato,asap rokok selalu mengepul dari bibirnya,maka saya akan memvonis bahwa orang itu preman,hidupnya ga bener,pengangguran,tukang palak,tukang mabok,dan lain sebagainya yang buruk-buruk.
Aku teringat sekitar dua tahun lalu saya pernah bertemu seseorang yang menjungkirbalikkan persepsi saya tentang penampilan seseorang.
Dalam perjalanan kereta api dari Klaten menuju Jakarta saya ngobrol dengan pemuda tanggung dengan penampilan yang “ndeso” sepatu kets putih,memakai topi,kaos oblong dan jelana jins murahan.
Serta merta aku menuduh bahwa profesi orang ini adalah tukang bangunan atau pedagang di pasar tradisional dan pasti tidak berkantong tebal.Setelah ngobrol basa-basi,dia bercerita bahwa dia bekerja di pasar induk Cipinang.
Nah!benar dugaan saya.
Kemudian dengan runut,dengan nada datar dia bercerita bahwa dia hanya membantu kakaknya berjualan jeruk.Kakaknya adalah agen jeruk di pasar tersebut.Pekerjaan pemuda tanggung tadi adalah bongkar muat jika jeruk yang dipesan dari jawa timur datang.Setelah itu dia menyetor jeruk itu ke sub agen dan pedagang-pedagang kecil lainnya.
Pekerjaan yang tidak membutuhkan sekolah untuk mempelajarinya.Tetapi yang membuat saya shock adalah pemuda tanggung itu mengaku penghasilannya sehari adalah 400ribu rupiah!!! Dia bercerita kalau lagi sepi paling sedikit dia mengantongi uang sekitar 200 ribu rupiah sehari.
Bangsat!bedebah!kutu kupret!Asu!dan sederet kata-kata kotor aku teriakkan dalam hati.Bagaimana mungkin pemuda kampung dengan penampilan ndeso-nya itu penghasilannya bisa sebesar itu.Pemuda ndeso itu bercerita kalau kakanya membeli jeruk dari Jawa timur itu dengan modal sekitar 19 juta rupiah sekali beli.setelah dijual kakaknya mengantongi keuntungan di atas 4 juta rupiah.
Setelah mendengar cerita pemuda ndeso tersebut persepsiku terhadap penampilan langsung jungkir balik,compang camping,cerai berai,babak belur,hancur lebur.
Masih banyak contoh lagi bahwa menilai seseorang dari penampilan luarnya adalah salah besar.Aku jadi teringat seorang kawan yang selalu memakai barang mahal di tubuhnya,dari baju,tas,sepatu,jam tangan,parfum selalu bermerek terkenal.Tetapi dia membelinya selalu dengan kartu kredit alias setiap bulan dia harus membayar cicilan kartu kredit.Dengan kata lain dan bahasa kasarnya kawan saya tadi membelinya dengan cara HUTANG.Tidak seperti pemuda yang penampilannya ndeso tadi.
wed,100808 @ mbm20