KEBEBASAN BENGKRING (cerpen)


Bengkring adalah pengamen di kawasan Tanah Abang,Jakarta.Nama Sebenarnya adalah Ahmad.Ahmad dipanggil dengan sebutan Bengkring karena tubuhnya yang sangat kurus.Kalau bertelanjang dada tampaklah tonjolan tulang iganya.Bengkring mengamen di sekitar stasiun dan pasar,terkadang Bengkring mengamen di bus kota jurusan Tanah Abang-Ciledug. Dengan hanya bermodal kecrekan yang dibuat dari tutup botol minuman ringan yang dipakunya pada sepotong kayu,Bengkring setiap hari menajalankan profesinya.Sambil menyanyi tak lupa dipasangnya tampang memelas yang diharapkannya dapat memukul sisi keibaan orang-orang yang kemudian memberikan sekedar uang receh yang dikumpulkannya untuk membeli sekedar nasi dan sekaleng kecil lem aica aibon yang bisa membuatnya bemimpi menjadi anak orang kaya dan melupakan penderitaannya. Terkadang kalau mendapat uang lebih dia lebih suka menghabiskan malamnya bersama perempuan-perempuan setengah tua di gerbong kereta api yang kosong tidak terpakai. Dihabiskannya uang hasil mengamennya bersama perempuan-perempuan yang sebenarnya lebih pantas menjadi ibunya,demi kepuasan sesaat.
Bengkring tinggal di sebuah gubug reot yang terbuat dari kayu dan beratap terpal di tepi sungai bersama Togar,lelaki setengah baya yang berprofesi sebagai pencopet dan dikenal sebagai salah satu preman di kawasan itu. Togar lah orang yang mengenalkannya pada hukum alam anak jalanan,bahwa yang lebih besar bisa seenaknya bebuat dan memerintah yang lebih lemah. Togar pulalah yang mengenalkannya ritual seksual anak jalanan. Masih jelas dalam ingatan Bengkring suatu malam ketika dia sedang tidur, Togar menariknya,menelungkupkannya di atas busa tipis kemudian menindihnya.Esok paginya Bengkring merasa sangat perih ketika hendak buang air besar di sungai.Hal itu terjadi berulang kali.
Suatu sore di stasiun Tanah Abang,Bengring menaruh potongan besi yang sudah diikat tali.di atas rel kereta api sambil menunggu kereta api lewat yang diharapkannya akan melindas potongan besi itu menjadi pipih.
“Sedang apa kau Bengkring?”teriak Togar
“Biasalah Bang,main-main menghilangkan stress”jawab Bengring sambil meringis.
“Ah,belagu kali kau bilang stress?Stress itu penyakit orang kaya!Baru jadi pengamen saja kau sudah bilang stress.Macam mana pula kau bilang kalau kau jadi anggota DPR?”ejek Togar sambil mengisap rokok filternya.
“Sudahlah,tak mau pusing aku lihat kelakuan kau yang kurang kerjaan melindaskan besi di rel kereta.Dapat berapa kau hari ini ?!”Tanya Togar
“Lima puluh ribu,Bang”sahut Bengring sambil merogoh saku celananya.
“Sini,kuambil tiga puluh ribu,sisanya buat kau tiduri itu si Minah di gerbong hahaha…” sambil tertawa Togar mengambil uang tiga puluh ribu dari tangan Bengkring.
Bengkring hanya meringis melihat uang hasil mengamen selama sehari diambil Togar.
***
Suatu malam ketika Bengkring lelap tertidur,dirasainya tangan yang kokoh menarik dirinya.Bengkring terjaga.Tangan Togar yang kokoh dan penuh tato membalikkan tubuh Bengkring dan mulai menindihnya.Tangan kanan Bengkring menyelinap di bawah busa tipis tempat pembaringannya.Bengkring terdiam.Ketika Togar mulai menariknya lagi,dihunjamkannya sebilah besi yang kemarin sore telah di gepengkannya dengan melindaskannya pada rel ketika kereta api lewat,ke perut Togar yang buncit.
Togar menggelepar memegangi perut buncitnya yang berubah warna menjadi merah.
Bengkring merasa sangat puas setelah hajat besarnya terlaksana.Ditendangnya perut Hasan yang bersimbah darah sambil tersenyum puas,lega. Ditinggalkannya mayat yang sangat dibencinya, mayat orang yang telah merenggut sebagian kehidupannya dan kejantanannya.Bengkring keluar dari gubug reot itu dengan senyum terus mengembang,dengan sorot mata kosong, tanpa angan, tanpa harapan, tanpa merasa berdosa…
Pagi harinya Bengkring tidak mengamen.Ingin dinikmatinya hari kebebasan itu tanpa bekerja. Dia berketetapan hati, sore harinya dia menumpang kereta api Senja Bengawan jurusan Solo Balapan.Ditinggalkannya Tanah Abang,mengubur sebagian kehidupan kelamnya…
***

hanta @ mampang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s