Nenek (sebuah cerpen)


Aneh ! Hari ini adalah hari dikuburkannya nenek tiriku, tetapi seakan seperti acara kenduri. Tak ada suasana duka cita atau belasungkawa.Jenazah nenek tiriku sudah dimasukkan ke dalam peti yang terbuat dari kayu jati. Rencananya jam dua siang akan dikuburkan di pekuburan Sasono Loyo yang terletak di pinggir desa.

Para pelayat sudah banyak berdatangan. Kulihat ibuku dan semua saudaraku berkumpul di dalam rumah sedang mengobrol dan bergurau,tak ubahnya seperti suasana arisan keluarga yang memang diadakan setahun sekali di rumah kakek .Kulihat juga para pelayat duduk santai sembari mengobrol.Benar-benar seperti tak ada suasana duka cita layaknya acara pemakaman biasa yang sering terjadi.

Nenek tiriku meninggal tepat dua bulan setelah kebakaran di rumah kakek yang telah menghabiskan seluruh isi dapur rumah kakek. Nenek tiriku meninggal akibat sakit. Sakit karena tak kuat menanggung perasaan bersalah akibat kebakaran itu.

Sebelum peti jenazah itu ditutup dan diberangkatkan ke pekuburan,aku masih sempat melihat wajah jenazah nenek tiriku untuk terakhir kalinya. Wajahnya yang keriput tampak pucat membiru.Raut wajahnya menampakkan penderitaan yang hebat sebelum malaikat maut menjemputnya.Tangannya bersilang di atas dadanya. Tubuhnya yang tambun bergelambir penuh lemak tampak layu.Aku memandang untuk terakhir kalinya.”Selamat jalan !”,ucapku dalam hati sambil tersenyum kusunggingkan di bibirku yang kering.

***

Waktu itu aku masih kelas empat SD ketika nenek kandungku meninggal. Aku masih ingat betapa nenek sangat sayang padaku. Aku ingat setiap pulang sekolah,aku langsung mampir ke rumah nenek yang tak jauh dari tempat tinggal orangtuaku. Selalu disambutnya aku dengan ciuman di pipi dan tentu saja beberapa buah manggis yang dibeli dari pedagang sayur yang selalu lewat didepan rumah nenek.

Menurut orang tuaku dan cerita tetanggaku,nenek meninggal akibat tak kuat menanggung cemburu akibat kakek yang mulai berulah mendekati janda desa sebelahku,- katanya bekas pacar kakek waktu masih muda – yang sebenarnya masih terhitung kerabat jauh.Aku tidak begitu paham karena saat itu aku masih terlalu kecil untuk dapat memahaminya. Tetapi sebatas yang aku ingat, pernah suatu sore aku disuruh nenek untuk memanggilkan kakek ke suatu rumah yang terletak paling ujung di desa sebelah. Dengan penuh semangat karena nenekku telah memberi aku uang seratus rupiah (yang waktu itu sebesar uang jajanku sehari disekolah), aku mengayuh sepeda mini ku menuju rumah itu. Ternyata memang benar kakek berada disana sedang menyapu halaman rumah janda itu.

Pada malam harinya ketika aku bersama teman-temanku sedang bermain jamuran dihalaman rumah nenek, kami mendengar pertengkaran kakek dan nenek. Kulihat nenekku menangis. Aku sedih.Sedih bukan karena pertengkaran mereka, tetapi sedih karena akibat pertengkaran itu,kami tidak jadi bermain.Teman-temanku pulang karena takut mendengar pertengkaran itu.Aku merasa lebih sedih lagi karena sehari setelah pertengkaran itu,nenek jatuh sakit dan langsung dibawa ke rumah sakit di kota yang jaraknya sekitar 4 kilometer dari desaku.

Dua minggu sesudahnya,suatu sore ketika aku sedang bermain sepak bola di kebun tetangga, saudara sepupu ibuku memanggilku dan memberitahu kalau nenek sudah pergi.Aku tanya pergi kemana, tidak dijawabnya.Hanya kulihat kedua pipinya basah dan matanya merah sembab. Kemudian aku mendengar suara yang sering aku dengar di televisi ketika mobil polisi mengejar penjahat . Didepan rumah nenek berhenti sebuah mobil putih dengan tulisan AMBULANCE di pintunya.Aku mengagumi bunyi raungan sirene dan lampu yang berpendar dari atas mobil putih itu. Kemudian aku melihat dua orang berpakaian serba putih mengusung tandu ke dalam rumah nenek. Kulihat ibu dan semua saudaraku menangis meraung-raung, termasuk beberapa tetanggaku yang berkerumun di depan rumah nenek. Adikku yang masih berusia 4 tahun ikut menangis dalam gendonganku,walaupun dia tidak tahu apa yang terjadi, tetapi mungkin setiap anak kecil begitu jika melihat ada orang yang menangis. Disebuah meja yang terletak di ruang tamu,nenek dibaringkan.Kulihat mata nenek tertutup,kulitnya tampak putih pucat.kedua tangan keriputnya bersilang di atas dada. Aku kemudian sadar, nenek telah meninggal. Aku menangis meraung-raung,kupeluk tubuh nenek,kugoyang-goyangkan tubuhnya sambil kupanggil namanya,tetapi nenek diam saja tak membalas pelukan atau mencium pipiku seperti yang biasa dia lakukan.

Saat itu aku baru pertama kali merasa sedih yang sangat.Aku merasa bahwa nenek tidak akan pernah memelukku,tidak akan pernah mengajakku bermain ,tidak akan pernah memberi uang jajan lebih,tidak pernah lagi bercerita tentang jaman perang dan tentu tidak akan pernah lagi memberiku buah manggis lagi.

***

Dua tahun sesudahnya kakek menikahi janda itu,walaupun seluruh keluarga menentangnya.Kakek menkah tanpa ada anggota keluarga yang datang.Janda itu pun tinggal di rumah kakek. Dari sinilah semua masalah bermula. Perlahan nenek tiriku itu mulai bertingkah sok kuasa. Kakek yang terkenal keras pun hanya menurut saja. Menurut saudara-saudaraku janda itu mulai mengeruk harta kakek yang memang cukup berada. Kakek adalah veteran pejuang dan pensiunan pegawai negeri yang bergaji lumayan besar untuk ukuran desaku. Beliau juga diangkat menjadi sesepuh desa.Setiap ada hajatan selalu kakekku yang didaulat untuk memberi sekedar sambutan atau wejangan. Singkatnya kakek adalah orang terhormat dan menjadi tokoh panutan warga desaku. Bahkan desa-desa di sekitar desaku pun menganggap kakek sebagai panutan. Dulu aku selalu bangga akan itu.

Tetapi setelah hubungan kakek dengan janda yang menyebabkan nenek jatuh sakit kemudian meninggal, warga desa mulai meragukan kakek sebagai tokoh panutan.Banyak warga desa yang mulai tidak suka terhadap kakek walaupun tidak menunjukkan secara terang-terangan. Dan aku pun mulai tidak bangga menjadi cucunya.

Ketika aku lulus SMA, aku pun mulai merasakan imbasnya.Kakek lebih memilih membiayai kuliah cucu dari nenek tiriku daripada membiayai aku yang ingin kuliah di Yogyakarta. Sejak SMA aku memang tinggal bersama kakek untuk menemaninya,walaupun aku tidak begitu suka karena harus selalu berurusan dengan nenek tiriku yang telah menyebabkan aku tidak pernah diberi manggis oleh nenek kandungku. Setelah lulus SMA aku disuruh ke Jakarta,ikut salah satu bibi, adik ibuku. Semua biaya kuliah ditanggung bibiku atas perintah kakek. Aku sebenarnya menolak keputusan itu. Aku ingin kuliah di Yogyakarta, tetapi kakek yang keras tidak bisa ditolak keinginannya.Aku kecewa,justru cucu dari nenek tiriku yang di biayai kakek dan selalu dituruti keinginannya.Aku berpikir pasti pengaruh dari nenek tiriku. Semakin bertambah kebencianku padanya.

***

Liburan semester lalu aku pulang ke rumah kakek. Kulihat nenek tiriku semakin tambun badannya,dan mulai sakit-sakitan. Kudengar dari cerita ibuku dan saudaraku bahwa rumah tangga kakek sudah tidak harmonis lagi. Kakek sering marah,karena istrinya yang terlalu manja dan sakit-sakitan sehingga sering tidak bisa melayani kakek .Kakeklah yang menyiapkan sendiri semua keperluannya. Bukan istri yang seharusnya merawat suami,tetapi sebaliknya kakek mau tidak mau harus mengurus dirinya sendiri sekaligus isrtinya yang manja itu. Istri yang bisanya pamer kekayaan kakek dan menghabiskan harta kakek untuk dibagikan kepada saudaranya. Semakin bertambah kebencianku pada wanita tua gemuk itu.

***

Sore itu wanita tua yang tambun itu sedang memasak air untuk mandi sore di dapur yang penuh tumpukan kayu bakar. Satu persatu potongan kayu kering dimasukkannya ke dalam tungku pembakaran yang terbuat dari tanah liat itu. Tiba-tiba wanita tambun itu bangkit dan mengusap perut buncitnya,dia sepertinya berasa hendak buang air. Dengan tertatih-tatih ia berjalan menuju kamar mandi.

Saat itulah dengan berjingkat pelan aku menuju dapur yang penuh kayu kering bertumpuk. Kuambil kayu yang masih menyala dari tungku tempat memasak air. Kupandang api yang berkobar dari kayu itu. Aku tersenyum.Memandang api yang berkobar itu tiba-tiba membuat hatiku juga terbakar,berkobar. Kobaran api dari kayu itu membangkitkan sesuatu yang lama terpendam dalam hatiku.Aku melihat cahaya kedamaian, aku merasai kepuasan, kebahagiaan yang tak terlukiskan.Mataku berkilat. Kutetapkan hati. Aku tersenyum.

***

“Kebakaran..! Kebakaran..!!”.Sontak belakang rumah kakek yang biasanya lengang,penuh oleh orang-orang yang berusaha memadamkan api yang berkobar hebat dari dapur rumah kakek yang penuh dengan tumpukan kayu kering.

Kulihat kakek yang panik,tegang,sedih, menyiramkan seember air dari sungai kecil di belakang rumah ketengah api. Kulihat wajah kakek yang tampak semakin tua dari biasanya. “Istri sialan!Sontoloyo!Tak tahu diuntung!” umpatnya berkali-kali. Kulihat juga wanita tua tambun itu menangis hebat.Semakin gendut dan jelek kulihat.

Tiba-tiba dari tengah kobaran api itu kulihat seorang wanita tua kurus berjalan kearahku.Aku tergagap.Kutajamkan matak. Tak salah lagi itu nenek,nenek kandungku. Sambil berjalan pelan, nenek tersenyum kepadaku. Ditangannya kulihat dia membawa sekeranjang penuh buah manggis kesukaanku.Aku tersenyum , bahagia…

Hanta,
Jakarta,Agustus 2005

One thought on “Nenek (sebuah cerpen)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s