RATMI DITANGKAP TRANTIB (cerpen)


Lonceng berdentang dua kali dari jam berwarna putih kusam yang menempel di tembok yang juga kusam dengan sebagian catnya mengelupas
Di atas busa tipis Upik terbaring menggigil.Dari bibir mungilnya yang kering terdengar rintihan pelan bercampur isak tangis.Kadang Upik terbatuk batuk.
Ratmi mencelupkan ujung handuk kecil ke mangkuk yang berisi air hangat. Disekanya dahi Upik,anak bungsunya dengan penuh kasih.Dibetulkannya letak selimut warna coklat bergambar matahari yang menyelimuti badan Upik yang kedinginan.
Upik,anak bungsu Ratmi terserang demam. Sore tadi Upik kehujanan ketika sedang asyik bermain dengan teman sebayanya di lapangan samping musholla.

Berhari hari ini setiap sore hujan lebat turun disertai angin yang kencang.Bahkan menurut berita di koran,istana Negara yang megah juga kebanjiran akibat hujan yang terus mengguyur.
“Istana Negara yang megah dan mahal saja kebanjiran,apalagi rumah kita yang masih ngontrak ya Bu,”kelakar Karman, suatu ketika.Karman adalah suami Ratmi yang menjadi anggota satuan pengamanan di pabrik sepatu yang kabarnya mempekerjakan karyawan dengan upah di bawah upah kelayakan.

“Yah,obatnya sudah habis nak”,gumam Ratmi.
Obat pereda demam untuk anak anak di plastik hitam yang tergantung di samping lemari pakaian itu sudah habis.Ratmi membuka lemari pakaian,diambilnya lima lembar uang ribuan yang terselip di bawah tumpukan pakaian yang dialasi koran.
Ratmi membangunkan Nanang,anak sulungnya yang lelap tertidur.
Diguncangkannya bahu anak sulungnya itu dengan pelan.
“Nang,bangun sebentar”
“Jaga adikmu sebentar,ibu mau beli obat di warung bang Jali.”
“Bapakmu jaga malam hari ini” sambungnya
Suara derit pintu yang ditutup mengiringi suara batuk Upik yang tambah kencang terdengar.
Setengah berlari Ratmi menuju warung rokok yang terletak di ujung jalan.
***
“Lho,dimana ibumu Nang?”,tanya Karman yang masih memakai seragam satuan pengamanan.Di kecupnya dahi Upik yang masih tertidur. Direbahkan tubuhnya di samping putri bungsunya.
“Engga tahu Pak,katanya semalam mau beli obat demam untuk Upik di warung bang Jali.Tapi sampai sekarang belum pulang Pak”,jawab Nanang sambil matanya tak beralih dari televisi hitam putih 14inch.
“Apa??dari semalam belum pulang?”Karman panik.
Segera Karman bangkit dan berlari ke tukang rokok yang terletak di ujung jalan.
“Bang Jali,lihat istri saya?Katanya semalam beli obat di warung bang Jali,kok sampai sekarang belum pulang ya?” penuh khawatir Karman bertanya.
“Mas Karman cari saja di kantor polisi”sahut penjual rokok itu.
“Hah?! kantor polisi?? ”jerit Karman keheranan bercampur kepanikan
“Iya mas,semalam sehabis beli obat disini,ada petugas Trantib lagi patroli keliling.Mbak Ratmi langsung ditangkap dibawa naik ke mobil.”
“Lho memang istri saya salah apa,kok ditangkap Trantib?”
“Kata petugas Trantib, mbak Ratmi melanggar Perda anti Pornografi dan Pornoaksi.”

Cebonx
april’06@wds
Tolak RUU APP

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s